Minggu, 05 Agustus 2012

di antara wanita wanita penghuni surga


                Su’airah; Wanita Penghuni Surga

Dia adalah seorang shahabiyyat bernama Su’airah al-Asadiyyah atau yang dikenal dengan Ummu Zufar radhiyallohu’anha. Walau para ahli sejarah tak menulis perjalanan kehidupannya secara rinci, karena hampir semua kitab-kitab sejarah hanya mencantumkan sebuah hadits dalam biografinya, namun dengan keterangan yang sedikit itu kita dapat memetik banyak faedah, pelajaran, serta teladan yang agung dari wanita shalihah ini.
Su’airah al-Asadiyyah berasal dari Habsyah atau yang dikenal sekarang ini dengan Ethiopia. Seorang wanita yang berkulit hitam, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketulusan. Ia adalah perumpamaan cahaya dan bukti nyata dalam kesabaran, keyakinan dan keridhaan terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah, Rabb Pencipta Alam semesta ini. Dia adalah wanita yang datang dan berbicara langsung dengan pemimpin orang-orang yang ditimpa musibah dan imam bagi orang-orang yang sabar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Dialog mereka berdua telah dimaktub dan dinukilkan di dalam kitab sunnah yang mulia. Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Inginkah engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku pun menjawab, “Tentu saja.”
Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:
“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”
Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.” Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)
Perhatikanlah … betapa tingginya keimanan wanita ini. Ia berusaha menjaga hak-hak Allah dalam dirinya. Tak lupa pula mempelajari ilmu agama-Nya. Meski ditimpa penyakit, ia tidak putus asa akan rahmat Allah dan bersabar terhadap musibah yang menimpanya. Sebab ia mengetahui itu adalah sesuatu yang diwajibkan oleh Allah. Bahwasanya tak ada suatu musibah apapun yang diberikan kepada seorang mukmin yang sabar kecuali akan menjadi timbangan kebaikan baginya pada hari kiamat nanti.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan diberi pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar :10)
Di dalam musibah atau cobaan yang diberikan Allah kepada manusia terkandung hikmah yang agung, yang dengannya Allah ingin membersihkan hambanya dari dosa. Dengan keyakinan itulah Su’airah lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, kerana apa yang ada disisi Allah lebih baik dan kekal. Dan Ketika diberikan pilihan kepadanya antara surga dan kesembuhan, maka ia lebih memilih surga yang abadi. Akan tetapi di samping itu, ia meminta kepada Rasululloh shallallahu ’alaihi wasallam untuk mendoakan agar auratnya tidak terbuka bila penyakitnya kambuh, karena ia adalah waniya yang telah terdidik dalam madrasah ‘iffah (penjagaan diri) dan kesucian, hasil didikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, dan menjaga hak Allah yang telah memerintahkan wanita muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya dengan menutup aurat. Allah subhanahu wa ta’alla berfirman:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (Qs An-Nur: 31)
Su’airah telah memberikan pelajaran penting bagi para wanita yang membuka auratnya, bahwa hendaknya mereka bersyukur kepada Allah ta’alla atas nikmat kesehatan yang telah dilimpahkan kepada mereka. Berpegang dengan hijab yang syar’i adalah jalan satu-satunya untuk menuju kemuliaan dan kemenangan hakiki, karena ia adalah mahkota kehormatannya. Dalam permintaannya, Su’airah hanya meminta agar penyakit yang membuatnya kehilangan kesadarannya itu tidak menjadi sebab terbukanya auratnya, padahal dalam keadaan itu pena telah diangkat darinya! Akan tetapi, ia tetap berpegang dengan hijab dan rasa malunya!
Betapa jauhnya perbandingan antara wanita yang pemalu dan penyabar ini dengan mereka yang telanjang yang tampil dilayar-layar kaca dan terpampang di koran dan majalah-majalah. Tak perlu kita mengambil contoh terlalu jauh sampai ke negara-negara barat sana. Cukuplah kita perhatikan di negara kita tercinta ini saja, banyak kita temukan wanita-wanita telanjang berlalu lalang dengan santainya di setiap lorong dan sudut kota, bahkan di kampung-kampung tanpa rasa malu sedikitpun. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah sebutkan perihal mereka ini dengan sabdanya:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“ Ada dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka: satu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi dimana mereka memecut manusia dengannya, dan kaum wanita yang berpakaian akan tetapi telanjang, genit dan menggoda, (rambut) kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Sungguh mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapati baunya, padahal bau surga bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian (jauhnya).” (HR Muslim 5704)
Mereka tak ubahnya seperti binatang yang kemana-mana tak berpakaian karena mereka memang tidak berakal! Keluarnya mereka telah merusak pandangan orang-orang yang berakal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda tentang mereka:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان
“Seorang wanita itu (seluruhnya) aurat. Apabila ia keluar (rumah) maka setan akan membuat mereka nampak indah di hadapan orang-orang yang memandanginya.” (HR Tirmidzi 1206, dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no 6690)
Dan sungguh semua itu bertolak belakang dengan fitrah manusia. Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)
“ Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs Al A’raf :179)
Demikianlah sosok Su’airah al-Asadiyyah radhiyallahu’anha, wanita yang dipuji Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam akan kesabaran dan ‘iffah (penjagaan diri)nya. Semoga pelajaran agung yang telah diwariskannya dapat menjadi acuan bagi wanita muslimah menuju keridhaan Allah subhanahu wa ta’alla, dan menjadikan kita penghuni surga sebagaimana Su’airah, Aamiin.

waspadalah dari fitnah wanita


مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita . (HR. Bukhry-Muslim)
Tulisan ini bukan untuk menyudutkan wanita ataupuyn diskrimintif sosial, akan tetapi tulisan ini aku kemas sebagai nasihat yang baik dan peringatan dari bahayanya. Wanita bias mejadi fitanh terbesar dan paling berbahaya bagi laki-laki namun bukan berarti wanita itu biang keladi. Dan tidak semua wanita itu sumber fitnah bagi lak-laki. Hal ini sering dan bahkan banyak tidak disadari oleh wanita itu sendiri dan laki-laki itu pun tak sadar bahwa ia termakan fitnah wanita. Tidak hanya orang biasa yang hancur termakan fitnah wanita, sejara telah mecatat banyak orang-orang besar terkena fitnah wanita sehingga jatuh, mereka itu mula dari kalangan para penjabat dan bahakan ahlul ilmi. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnta finah wanita bagi laki-laki. Pemabaca yang budiman, berikuti ini aku akan kishkan mereka ahlul ‘ilmi (Ulama) yang terjatuh akibat terbawa fitnah wanita:
***
Di kalangan peneliti hadis nabawi, Shahih Al Bukhari adalah sebuah antologi hadis yang diterima sekaligus dikagumi sepanjang masa. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat mereka kepada Imam Al Bukhari, ada beberapa kritik yang mereka ajukan terkait dengan beberapa hadis dalam karya tersebut. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imran bin Hittan As Sadusi. Ternyata, hadis-hadis yang diriwayatkan Imran bin Hittan didapati pula di dalamSunan Abi Dawud dan Jami’ At Tirmidzi.
kritik para pakar ilmu hadis itu mengacu kepada diri periwayat hadis, bukan isi hadisnya. Hal inilah yang mengundang tanya pada kita. Siapa Imran bin Hittan yang dimaksud?
Imran bin Hittan As Sadusi Al Basari adalah salah seorang yang cerdas. Ia pernah mendatangi Aisyah Al Humaira, Abu Musa Al Asyari, dan Abdullah bin Abbas. Kepada ketiga sahabat Nabi Muhammad ini, Imran bin Hittan belajar dan mendapatkan hadis-hadis Nabi Muhammad. Karena hadis-hadis itu pula kemudian, ia didatangi oleh pemuka-pemuka generasi Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Qatadah bin Diamah As Sadusi dan Yahya bin Abi Katsir. Selain pernah belajar langsung kepada sahabat-sahabat Nabi Muhammad, Imran dikenal sebagai penyair yang genial; ia bisa menggubah syair-syair Arab yang bagus. “Imran bin Hittan,” puji Al Farazdaq suatu hari, “bisa berkata-kata dengan tutur-kata kita. Tapi kita tak pernah bisa bertuturkata dengan kata-katanya.” Al Farazdaq dikenal sebagai salah seorang penyair besar Arab. Akan tetapi, reputasi Imran akhirnya hancur berantakan setelah ia menjadi pengikut Khawarij.
khawarij adalah salah satu kelompok yang menyempal dari barisan kaum muslimin. Mereka senang dan gampang mengafir-ngafirkan pemeluk Islam yang melakukan suatu dosa besar selain syirik dan memvonisnya kekal di dalam neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena itulah, mereka membolehkan membunuh siapa saja yang dianggap kafir, meskipun itu orang Islam atau para utusan diplomatik negara-negara non-muslim atau hanya sekedar para pelancong non-muslim.
Bermula dari seorang wanita yang dilihatnya suatu hari, Imran terpesona dengan kecantikannya. Muncul hasrat untuk menikahi wanita itu. Meski telah diberitahu bahwa wanita itu pengikut kelompok Khawarij, Imran tidak peduli. “Akan kupengaruhi dia,” kata Imran. Dengan kapasitas kecerdasan yang dimilikinya, Imran bertekad menyadarkan wanita itu setelah dinikahi nanti. Sebagai seorang istri, tentu saja akan mudah bagi Imran untuk menasehati dan mengajaknya bertobat dari keyakinan yang dipeluk selama ini. Ternyata tidak mudah. Yang terjadi kemudian justru Imran-lah yang dipengaruhi oleh istri tersebut. Lambat laun, Imran pun berubah. Dan sejak saat itu, ia bergabung ke dalam barisan Khawarij dan menjadi salah seorang pembesar yang pernah dimiliki kelompok itu sepanjang sejarah. Banyak orang yang tidak percaya.
Tapi, bagaimana pun, perubahan sikap Imran menjadi perbincangan orang ramai waktu itu sampai khalifah Abdul Malik bin Marwan pun tahu. Menghindari panggilan khalifah, Imran pergi ke utara Jazirah Arab. Pada tahun 84 Hijriah, Imran meninggal dunia.
Dari semula yang menghormati Ali bin Abi Thalib, Imran menjadi pencelanya. Dalam salah satu syair yang digubahnya, Imran menjelek-jelekkan menantu Nabi Muhammad itu. Imran bahkan memuji orang yang membunuh Ali bin Abi Thalib sebagai pembunuh yang diberi cahaya terang oleh Allah. Sikap Imran demikian termasuk salah satu ciri khas orang-orang Khawarij waktu itu. Mereka tidak menyukai Ali bin Abi Thalib dan menganggapnya boleh dibunuh. Di mata mereka, Ali telah kafir karena kebijakannya dalam perang Shiffin—satu perang saudara yang terjadi antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Bagi para pencari hadis dan pakar ilmu hadis, orang-orang seperti Imran adalah mereka yang diragukan keabsahan hadis-hadisnya. Biasanya, para pengikut kelompok sesat memalsukan atau memelintirkan hadis-hadis yang mereka sampaikan untuk membenarkan ideologi dan aksi-aksi mereka. Imam Safei termasuk imam kaum muslimin yang meragukan hadis-hadis mereka. Bahkan, disebutkan di dalam Al-Ba’its Al-Hatsits Syarhu Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits, Imam Safei menolak mentah-mentah hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang Syiah.
***
Kisah yang serupa juga terjadi pada orang yang telah dipuji Imran itu. Karena cinta pula, Abdurrahman bin Muljam bersedia membunuh Ali bin Abi Thalib. Padahal, waktu itu, Ali adalah pemimpin kaum muslimin (baca: amirul mukminin). Ali menjabat sebagai khalifah setelah khalifah Usman bin Affan dibunuh oleh orang-orang Khawarij.
Semula, sebagaimana dikatakan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis, Abdurrahman bin Muljam adalah seorang yang pandai membaca Al Qur’an. Ia diminta oleh Umar bin Khattab untuk mengajarkan Al Qur’an kepada orang-orang yang baru masuk Islam di daerah yang baru ditaklukkan. Masa pemerintahan Umar dikenal sebagai masa yang penuh dengan pembukaan daerah-daerah baru. Dan seorang pengajar Al Qur’an waktu itu adalah orang yang hafal Al Qur’an sekaligus pandai membaca dan memahami kandungannya. Sayangnya, di masa pemerintahan Ali, Abdurrahman tergabung ke dalam barisan Khawarij.
Ketika perang antara pasukan Ali dan orang-orang Khawarij terjadi di Nahrawan, Abdurrahman termasuk orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri dari kematian. Ia berencana membalaskan dendam rekan-rekannya yang terbunuh kepada Ali. Rencana itu makin menguat, ketika suatu hari Abdurrahman bertemu dengan seorang wanita cantik di masjid kota Kufah. Ayah dan kakak wanita ini terbunuh pada perang di Nahrawan. Terpikat oleh kecantikannya, Abdurrahman berusaha meminang wanita itu. Ternyata, mahar yang diajukan sebagai syarat pernikahan mereka adalah uang 3000 dirham, sepasang budak, dan kematian Ali bin Abi Thalib.
Abdurrahman akhirnya menyanggupi mahar untuk wanita itu. Berbekal pedang tajam yang telah diasah selama 40 hari, ia mengintai rumah Ali. Ketika Ali keluar untuk mengimamin salat Subuh di masjid Kufah, Abdurrahman menghantam kepala Ali dengan pedang itu. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan tahun 40 Hijriah. Abdurrahman sendiri dihukum mati tidak lama kemudian. Satu hal yang menarik, dalam melaksanakan rencananya, Abdurrahman menggunakan kamuflase sedemikian rupa. Ia ingin teman-temannya sesama kelompok Khawarij tidak mengetahui dirinya ketika hendak menjalankan rencana itu. Dari sini, kita pun tahu, kamuflase adalah salah satu ciri orang-orang Khawarij dulu yang kemudian diwariskan ke para penerus mereka. Bahwa kelompok-kelompok Islam-teroris sekarang ini juga sering menggunakan kamuflase, itu tidaklah mengherankan kita.
Ketahuialah pembaca yang budiman, ciri-ciri yang paling kongkrit seorang wanita menjadi fitnah atapun anda (akhwat) menjadi fitnah bagi laki-laki adalah apabila laki-laki yang dekatedngannya atapun dikenalnya akhlak dan perilakunya berubah menjadi buruk dan itu sebab wanita yang dekat dengannya maka sudah dapat diketahui bahwa wanita itu sudah ,menjadi fitnah bagi laki-laki itu. Maka apa bila wanita itu menyadari bahwa laki-laki yang dia kenal baik berubah menjadi buruk segeralah beristighfar sebab kamu (wanita) sudah menjadi fitnah bagi laki-laki itu. maka harus ada saling-nasihat menasihati dalam hal ini.
KIAT AGAR TIDAK TERBAWA FITNAH WANITA DAN AGAR WANITA TIDAK MENJADI FINAH BAGI LAKI-LAKI
1. Tidak berkhalwat
2. Jangan terlalu menebar senyum ke lawan jenis
3. Jangan sering berkomunikasi terhadap lawan jenis
4. Jangan terlalu banyak curhat kepada lawan jenis
5. Saling menjaga pandangan dan menutup aurat da berhijab
6. Sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dan dzikrullah dll.
Demikian tulisan ini diangkat sebagai nasihat untuk menjaga diri dari berbagai fitnah, “agama adalah nasihat” (HR. Muslim). dan tulisan ini tidak lepas dari kesalahan-kesalahan maka aku mohon koreksinya dan nasihat yang baik dari anda semua.
ditulis oleh:
Omar Ibrahim al-Imanulmuslim

Sabtu, 04 Agustus 2012

mencari ilmu


anyp
Kewajiban menuntut ilmu ini ditegaskan dalam hadits nabi, yaitu :
رواه إبن عبد البر)) طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Artinya :
Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”
(HR. Ibnu Abdil Bari)
Rasulullah SAW bersabda: أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan didunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Benar hadist Rasulullah Muhammad s.a.w “Udlubul ilma mahdi illal lahdi”, menuntut ilmu sejak buaian sampai liang lahad.
Menurut teman - teman apa maksudnya? karena hadist yang benar setahu saya kalimatnya adalah "tuntutlah Ilmu dari buaian sampai ke liang lahat" atau yg demikian, Tolong “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Namun hadist ini tidak sempat menggugah perhatian umat islam untuk memprakarsainya menjadi word program hingga pada
Begitu pula himmah untuk belajar, kewajiban belajar ada pada semua umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mulai lahir hingga nafas berakhir. “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat” (HR. Bukhori) Dalam banyak kesempatan dan berbagai tempat, para ulama telah panjang lebar membicarakan tentang keabsahan hadits tersebut. Menurut banyak ulama, bahwa hadits tentang hal tersebut, -meski tidak diriwayatkan baik oleh Imam Al-Bukhary ataupun Imam Muslim- Meski sudah berusia 71 tahun, Mbah Im tetap rajin menimba ilmu. Ia terus berupaya mengamalkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, "Utlubul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai [menjelang] liang lahat)." .. Hadist. Dari Abi Nadhrah berkata: "Kami sedang berada bersama Jabir bin Abdullah, rodhiyallahu 'anhuma, dia berkata. (Rasuulullah Saw Bersabda) : "Hampir saja tidak boleh dibawa masuk ke negeri Iraq (diboikot) makanan sepotong roti-pun Menuntut Ilmu Wajib bagi Semua Mukmin dan Mukminah Tuntutlah Ilmu dari Buaian hingga ke Liang Lahat Ilmu itu bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan
Dalam sebuah hadis disebutkan, tuntutlah ilmu dari buaian sampai.. a. Usia dewasa c. Liang lahat b. Mendapatkan pekerjaan d. Sampai tua 25. Jika menginginkan kehidupan dunia dan akhirat, maka harus dengan .. a. Beribadah c. Ilmu
Menuntut ilmu memang bukan kewajiban yang ditentukan waktunya seperti salat dan puasa, tapi justru merupakan kewajiban sepanjang hayat. Hadis Nabi Saw. menyebutkan, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Wajarlah jika Rasulullah berkata, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat“. Dengan terbiasa mengambil pelajaran dari seluruh kegiatan, kita bisa mendapatkan banyak keterampilan. Hal inilah yang bisa membuat kita lebih unggul modal keterampilan hidup tersebut kita akan siap menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam dunia ini. Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah:6). Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat (Al Hadits)
tajuk diatas, SirN telah memulakan mukadimah dengan kewajipan belajar kepada ibubapa bersesuai dengan hadis Nabi s.a.w "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat" Fadhilat Ilmu. 1) Tiada sesuatu ibadah kepada Allah yang lebih utama drp memahami ilmu Di antara seorang 'alim dan 'abid spt kelebihanku dari orang yang paling rendah dari Long Integrated Education), Rasulullah SAW pada abad ketujuh telah menegaskan: Uthlub al’ilma min al-mahdi ila al-lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat).Di dalam Hadits mengatkan bahwa : " TUNTUTLAH ILMU DARI BUAIAN SAMPAI LIANG LAHAT ". Atau yang dalam keseharian seprti, mencuci, mandi, bermain, dll. Semuanya ditunda dengan beragam alasan. Padahal sesungguhnya penundaan tanpa alasan artinya :”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat bahwa pada “Tuntutlah Ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat,”. Demikian sabda Rasulullah. Karena itu, tidak seharusnya ada waktu yang kosong dari sentuhan pendidikan.Tuntutlah Ilmu Dari Buaian Sampai Ke Liang Lahat Ir. Soekarno, New7Wonders of Nature, Al-Qur'an & Hadist Today, Di samping itu, Rasulullah SAW bersabda uthlubul'ilma minalmahdi ilal lakhdi yang artinya “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Hadits tersebut menekankan betapa pentingnya seseorang belajar sedini mungkin. Artinya, pendidikan pada anak usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa. Pendidikan pada usia ini adalah peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Keberhasilan pendidikan usia dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur al – hadist (4) aqidah (23) download kitab ulama (2) dzikir dan do
Misalnya hadist berikut ini; “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu walaupun di negeri cina; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; para ulama itu pewaris Nabi; pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama

Senin, 23 Juli 2012

JAGALAH RAMADHAM KITA


Hal-hal yang memerusak keistimewaan Ramadhan
Oleh anyp

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah, mari kita bersyukur kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai keni’matan, terutama ni’mat Iman dan Islam. Semua itu dari Allah Ta’ala, maka mesti kita syukuri. Dan Allah akan menambahi ni’mat itu bagi orang-orang yang bersyukur.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, sadarkah kita bahwa menjelang datangnya Ramadhan, aneka pihak yang akan merusak pahala ibadah puasa Ramadhan kita bahkan mungkin merusak secara total shiyam kita, mereka telah bersiap siaga sejak lama? Dengan harta, tenaga, rekadaya dan aneka perangkat serta programnya telah mereka siapkan dengan matang. Sehingga ketika kita masuk pada bulan Ramadhan, perangkap yang mereka persiapkan dengan sempurna itu telah siap memangsa pahala puasa kita. Bahkan siap merusak total shiyam kita.
Mungkin kita akan menjadi pesakitan mereka yang terseret waktu-waktu berharga kita yakni bulan ibadah bulan Ramadhan itu dengan hal-hal yang sia-sia, bahkan mengandung dosa dan maksiat. Mata kita diseret untuk memelototi aneka tayangan yang berhiaskan syahwat dan syubhat. Tontonan syahwati akan menyeret manusia kepada nafsu birahi, sedang tayangan yang mengandung syubhat adalah menjajakan kebatilan tapi dikemas seolah berupa kebenaran.
Secara fisik dan jiwa naluriyah, perangkap-perangkap yang akan menyeret syahwat Ummat Islam ini telah dipersiapkan dengan sempurna karena dibiayai besar-besaran dan digarap dengan seksama. Sehingga tidak terasa, bulan Ramadhan yang seharusnya Ummat Islam ini lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, justru tahu-tahu habis waktunya untuk mengikuti detik demi detik aneka macam tayangan yang merangsang kepada nafsu syahwat. Atau yang paling ringan darinya adalah hal-hal yang tidak berguna, namun telah memusnahkan waktu-waktu kita. Betapa ruginya kita ketika waktu yang sangat berharga bila diisi dengan ibadah itu telah tersita oleh aneka tayangan yang diam-diam kita ni’mati sehari-hari.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Mata kita seandainya digunakan untuk melihat mush-haf, kita membaca Al-Qur’an, di luar bulan Ramadhan pun sangat besar pahalanya. Karena satu huruf al-Qur’an yang kita baca, nilainya 10 kebaikan. Sedang alif laam mim, bukan hanya satu huruf tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf, jadi 3 huruf, maka 30 kebaikan.
Dalam hadits, Nabis sahallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ عليه أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ { ألم } حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ عشر وَلَامٌ عشر وَمِيمٌ عشر فتلك ثَلاثُونَ .( صحيح ) انظر حديث رقم : 1164 في صحيح الجامع .
Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya kamu sekalian diberi pahala atasnya, adapun aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu sepuluh, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh, maka itu 30. (hadits dari Ibnu Mas’ud, Shahih nomor 1164 dalam Shahih al-Jami’).
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم { : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ , وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ , وَلَامٌ حَرْفٌ , وَمِيمٌ حَرْفٌ } . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ . وَقَالَ : حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ  .( صحيح ) انظر حديث رقم : 6469 في صحيح الجامع .
Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan karenanya, dan satu kebaikan itu dengan sepuluh perbandingannya, aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf, dan mim itu satu huruf. (HR At-Tirmidzi, ia berkata hasan gharib –gharib artinya dengan satu sanad, dari satu orang kepada satu orang dan seterusnya demikian hingga tercatat dengan satu sanad–, Hadits Shahih nomor 6469 dalam Shahih al-jami’).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, hadits tersebut umum, artinya hari-hari biasa di luar Ramadhan. Itupun membaca Al-Qur’an satu huruf diberi pahala sepuluh kebaikan. Apalagi di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan itu ada keistimewaan-keistimewaannya.
Syekh Shalih Al-Munajid dalam tulisannya tentang khoshoishu syahri Ramadhan menyebutkan keistimewaan Ramadhan diantaranya
  • Allah menurunkan Al-Qur’an (di dalam Bulan Ramadan).Sebagaiamana firman Allah Ta’ala pada ayat,
( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ )
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah: 185)
Allah Ta’ala juga berfirman:
( إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) سورة القدر: 1
“Sesungguhnya Kami turunkan (Al-Qur’an) pada malam Lailatur Qadar.”
  • Allah menetapkan Lailatul Qadar pada bulan tersebut, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah:
( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ) سورة القدر: 1-5
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar : 1-5).
Dan firman-Nya yang lain:
( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ) سورة الدخان: 3
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3).
Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailaul Qadar. Untuk menjelaskan  keutamaan malam yang barokah ini, Allah turunkan surat Al-Qadar, dan juga banyak hadits yang menjelaskannya, di antaranya Hadits Abu Hurairah radhialahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ” رواه النسائي ( 2106 ) وأحمد (8769) صححه الألباني في صحيح الترغيب ( 999 ) .
“Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu (neraka) jahim ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Padanya Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Nasa’I, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 999)
Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . (رواه البخاري، رقم 1910، ومسلم، رقم  760 )
“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).
  • Allah menjadikan puasa dan shalat  yang dilakukan dengan keimanan dan mengharapkan (pahala) sebagai sebab diampuninya dosa. Sebagaimana telah terdapta riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”. Juga dalam riwayat Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ».
”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.
Umat Islam telah sepakat (ijma) akan sunnahnya menunaikan qiyam waktu malam-malam Ramadhan. Imam Nawawi telah menyebutkan bahwa maksud dari qiyam di bulan Ramadhan adalah shalat Taraweh, Artinya dia mendapat nilai qiyam dengan menunaikan shalat Taraweh.
  • Allah (di bulan Ramadhan) membuka  pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan-setan. Sebagaimana dalam dua kitab shahih, Bukhari, no. 1898, Muslim, no. 1079, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ».
“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”. Demikian penegasan Syekh Shalih al-Munajid dalam Khoshosishu syahri Ramadhan.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, Sedemikian istimewanya bulan Ramadhan, namun ketika kita terseret bahkan termangsa oleh perangkap-perangkap yang memusnahkan kebaikan, maka sangat disayangkan. Karena telah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam peringatkan:
مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya (malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan), maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Nasa’I, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 999).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketika diri kita tidak siap, sedang pihak-pihak yang memangsa atau memasang perangkap demi aneka kepentingannya telah siap, maka betapa ruginya. Karena ternyata telah diingatkan dalam hadits:
عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ )) رواه البخاري
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meniggalkan makan dan minum.” (HR.Al-Bukhari)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ ».
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi bagian atau balasan dari puasanya adalah lapar dan haus saja, dan betapa banyak orang yang shalat malam (tarawih) tetapi bagian atau balasan dari shalatnya hanyalah capai dan kantuk saja” (HR.Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, al-Baihaqi dengan sanad shahih)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah berkata di dalam kitab al-Waabilush Shayyib:
والصائم هو الذي صامت جوارحه عن الآثام ولسانه عن الكذب والفحش وقول الزور وبطنه عن الطعام والشراب وفرجه عن الرفث فإن تكلم لم يتكلم بما يجرح صومه وإن فعل لم يفعل ما يفسد صومه فيخرج كلامه كله نافعا صالحا وكذلك أعماله فهي بمنزلة الرائحة التي يشمها من جالس حامل المسك كذلك من جالس الصائم انتفع بمجالسته وأمن فيها من الزور والكذب والفجور والظلم هذا هو الصوم المشروع لا مجرد الإمساك عن الطعام والشراب (الوابل الصيب – (ج 1 / ص 43)
”Orang yang berpuasa adalah orang yang menahan organ-organ tubuhnya dari perbuatan dosa;lidahnya dari berbohong,ucapan keji, dan palsu; perutnya dari makan dan minum; dan kemaluannya dari perbuatan tidak senonoh. Jika berbicara,dia tidak berbicara dengan pembicaraan yang dapat menodai puasanya. Jika berbuat,dia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak puasanya. Maka yang keluar dari lisannya hanyalah perkataan yang baik dan bermanfaat. Demikian pula amal perbuatannya. Semua amal perbuatannya bagaikan bau harum minyak kasturi yang dihirup oleh setiap orang yang duduk bersamanya. Dengan demikian, orang yang berpuasa memberi manfaat kepada siapa pun yang bergaul dengannya, karena dia akan bisa memberikan rasa aman di hati orang yang bergaul dengannya dari kepalsuan,kebohongan, kejahatan,dan kezhaliman.
Inilah puasa yang disyari’atkan dalam Islam, bukan sekadar hanya menahan diri dari makan dan minum. ) al-Waabilush Shayyib 1 halaman 43).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah. Demikian peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan yang terang dari ulama. Namun pihak-pihak yang mempengaruhi terseretnya kita untuk menjadi orang yang tidak takut berdusta dan tak takut berbuat haram telah melingkupi dari berbagai segi. Bahkan seakan telah terbentuk saling tahu agar saling menjaga dusta-dusta.
Akankah kita menjadi orang yang beruntung karena mampu melepaskan diri dari jeratan aneka macam yang merusak di saat sebelum Ramadhan dan Ramadhan nanti, ataukah justru masih terjerat dalam kubangan yang menghapuskan pahala amal?
Perangkap-perangkap itu telah disiapkan untuk dipasang, dan mangsanya adalah kita. Bila tanpa persiapan dan tekad yang bulat dengan bertawakkal kepada Allah penuh kesabaran, maka perangkap-perangkap itu akan memangsa amaliyah kita, hingga letih dan susah payahnya berpuasa hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga. Maka mari kita siapkan sebaik-baiknya, dengan melepaskan segala kepalsuan selama ini menuju kepada kebaikan yang sesuai agama yang benar. Sehingga benar-benar kita ini menjadi orang-orang yang ikhlas dalam beragama.
هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [غافر/65]
65. Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS Al-Mu’min/ Ghafir/ 40: 65).
 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
===============